Tampilkan postingan dengan label short story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label short story. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Oktober 2013

(UN) HAPPY BIRTHDAY

Tik… Tok… Tik… Tok…
Suara detik jam terasa makin terdengar kencang. Sudah lewat hampir satu jam dari jam 12 malam, tapi belum ada tanda-tanda kamu akan menghubungiku, apalagi datang kesini. Sementara sudah banyak ucapan dari teman-temanku yang lain, baik itu lewat social media, maupun sms. “Ah, mungkin dia baru akan menghubungiku besok.” Ucapku dalam hati, mencoba menenangkan diri sendiri.
“Tunggu aku saat ulang tahunmu. Aku janji aku akan datang dan meminta izin pada orang tuamu agar kita bisa menikah.” Itulah kata-kata yang kau ucapkan saat akan pergi menjalankan tugas ke daerah yang sedang terkena konflik antar suku. Aku sebenarnya tidak rela melepasmu pergi, karena sudah banyak kabar tentang prajurit yang gugur di sana. Perasaanku mengatakan bahwa itu adalah terakhir kalinya aku bisa bertemu denganmu. Tapi kata-katamu sedikit membuatku kuat. Aku percaya kamu akan menepati janjimu, seperti biasa. Kamu tidak pernah mengingkari janji apapun yang kau ucapkan.
Aku tidak bisa mencari kabar tentangmu karena di sana tidak ada jaringan komunikasi sama sekali. Jadi aku hanya bisa menunggu, dan percaya kamu akan datang. Tersiksa? Sangat. Aku merasa ada yang hilang. Memang ini bukan pertama kali kita harus berjauhan karena kamu ditugaskan ke daerah sebagai baktimu sebagai anggota TNI. Tapi setidaknya kita masih bisa berkomunikasi walaupun tidak sering.
Detik berganti menit, menit berganti jam. Tak terasa waktu sudah beranjak malam. Tapi kamu masih belum juga datang. “Mungkin besok, bukankah dia selalu mengucapkan di hari kedua?” Aku kembali mencoba menenangkan hatiku sendiri. Hari kedua? Ya, ulang tahunku jatuh pada tanggal 29 Februari yang hanya ada 4 tahun sekali. Dan ketika tidak ada tanggal 29, aku selalu berkata kalau aku punya 2 hari ulang tahun. Pertama tahu hal itu kamu hanya tertawa, kamu bilang itu hal yang tidak masuk akal.
“Eh, kan aku bisa ulang tahun di tanggal 28 Februari sama 1 Maret!”, ucapku agak kesal.
“Iya deh iya, gimana kamu aja.” Jawabmu sambil tetap tertawa.
Aku makin tidak bisa tidur. Kulihat jam di dinding, sudah hampir 2 jam berlalu semenjak hari berganti ke tanggal 1, tapi kamu masih belum menghubungiku. Ibumu juga berkata bahwa kamu belum sampai di rumah, dan kamupun belum memberi kabar. Jadi dimana kamu sekarang? Mengapa kamu masih belum menghubungiku? Apakah kamu sudah lupa janjimu? Tidak, itu tidak mungkin. Beberapa minggu lalu kamu menitipkan surat kepada temanmu dan memberikan kabar bahwa kamu akan pulang pada saat aku ulang tahun. Kamu juga memintaku untuk bersabar menunggu. Baiklah, hari ulang tahunku masih belum habis. Aku akan tetap menunggu, walaupun dengan hati yang mulai kacau.
Aku merasa hari itu adalah hari paling menyiksa untukku. Menunggu kabarmu yang tak kunjung datang, ditambah perasaanku yang entahlah mengapa beberapa hari terakhir ini sangat tidak karuan. Aku merasa hal buruk akan terjadi, dan aku benci karena perasaanku tidak pernah salah. Beberapa kali aku ditegur oleh temanku karena kedapatan melamun saat bekerja. Aku hanya ingin pulang, dan berharap menemukanmu telah menungguku di depan rumah. Sampai akhirnya saat aku pulang, bukan kamu yang aku lihat di depan rumah, tapi orang lain.

……………………

Setahun berlalu. Hari ini, tepat tanggal 29 Februari, hari ulang tahunku. Kita akhirnya bisa merayakannya berdua kembali, walaupun keadaannya sudah berbeda.
Aku membersihkan nisan yang terukirkan namamu. Kuletakkan bunga mawar kesukaanmu diatasnya. Aku bisa merasakan kamu ada di sini, di sisiku.
“Hei, apa kabar? Ini hari ulang tahunku. Kamu ga mau kasih aku ucapan?” ucapku sambil mengelus nisannya.
Hari itu, saat aku pulang kerja, aku mendapati kakakmu yang datang ke rumah. Awalnya aku tidak mengerti mengapa bukan kamu yang datang, sampai akhirnya ibu memelukku, dan kakakmu menceritakan semua kejadian yang terjadi.
“Dia sudah mendapatkan izin untuk pulang kemarin. Temannya menceritakan bahwa dia bahkan sudah tidak sabar untuk segera bertemu denganmu, Na. Pagi-pagi sekali dia sudah berangkat, menumpang kendaraan pengangkut logistik dan segala keperluan untuk prajurit di sana. Tapi belum sampai perbatasan, mobil mereka terjebak dalam bentrokan yang kembali pecah. Tentu saja Dika dan beberapa prajurit lain yang juga kebetulan ikut dalam rombongan itu mencoba mengamankan keadaan.” Kakakmu terdiam, dia terdengar menarik nafas panjang sebelum kembali melanjutkan ceritanya.
“ Tapi Dika terkena tembakan yang datangnya entah dari kubu mana. Tembakannya tepat di dada. Dika sempat dilarikan ke rumah sakit, tapi nyawanya tidak tertolong lagi. Dika… Dika meninggal di rumah sakit akibat kehilangan banyak darah.”
Aku merasa tubuhku mulai lemas, semua terasa gelap. Aku tidak ingin mempercayai semua yang kakakmu katakan. Apakah ini hanya caramu mengerjaiku seperti biasa? Kamu memang selalu membuatku kesal sebelum memberi kejutan manis untukku di tiap hari ulang tahunku. Tapi ini sangat tidak lucu!
“Na, kamu ga apa-apa kan?” terdengar suara ibu yang mulai menyadarkanku.
“Kak Rega becanda kan? Ini Dika cuma mau ngerjain Nana kan kak?!” ucapku tak percaya, air mataku sudah tidak bisa lagi ditahan.
“Maafin kakak, Na. Tapi kali ini kakak ga lagi ngebantuin Dika ngerjain kamu. Kamu yang sabar ya Na. Kakak tahu perasaan kamu.”
“Ga, ga mungkin. Dika bilang dia mau pulang buat nemuin Nana. Dika ga mungkin boong, Dika ga pernah ingkar janji! Ga! Nana ga percaya!”Aku makin  histeris,menyadari kalau kakakmu tidak becanda. Ibu kembali memelukku, kali ini lebih erat.
“Sekali lagi kakak minta maaf. Dan ini, Dika pasti mau kamu nyimpen ini. Sebelum pergi buat ngejalanin tugas, Dika nitipin ini sama kakak.”
Aku menerima satu kotak kecil yang diberikan oleh kakakmu. Saat aku buka, di dalamnya ada sebuah cincin dari emas putih dengan ukiran yang cantik. Aku perhatikan di bagian dalam cincin itu ada tulisan nama kita berdua.
“Itu pasti cincin tunangan yang harusnya Dika kasih kemarin buat kamu Na.”
Aku makin lemas sampai kotak itu terlepas dari genggamanku. Tangisku pun pecah. Hari itu, aku kehilanganmu, kehilangan hatiku, cintaku, orang paling penting dalam hidupku. Dan itu jadi hari ulang tahun terburuk, seumur hidupku.

READ MORE - (UN) HAPPY BIRTHDAY

Rabu, 24 April 2013

The Choosen One

       Cuaca Bandung lagi panas-panasnya, kalau kata orang-orang sih “neraka kayanya lagi bocor”. Aku terpaksa menembus panasnya Bandung cuma buat nyari keripik pedes pesenan kakakku yang katanya lagi ngidam banget, saat ga sengaja aku ngeliat dia juga lagi ngantri, kayanya sih nyari keripik yang sama juga. Setelan pekerja kantoran rapi, minus dasi sih, ngeliatnya aja udah berasa adem banget. Dia tuh ibarat oase ditengah padang pasir (oke, aku mulai terdengar berlebihan), dan tiba-tiba dia nengok, mungkin melihat aku yang sedang memperhatikan dia, dan tersenyum. Kalian tahu, aku tiba-tiba merasa seperti berada di tengah padang bunga yang sejuk, melayang-layang (yup, mulai lebai lagi). Tapi bodohnya diperhatikan seperti itu aku malah makin tidak bisa bergerak sama sekali, sampai ibu-ibu di belakang menegurku gara-gara aku menghalangi jalan dia.
       Semuanya ga berhenti disitu, karena ternyata dia menungguku. Dia mengulurkan tangannya untuk mengajak berkenalan, dan dari situlah semuanya dimulai. Namanya Arga, kerja di salah satu Bank swasta yang kantornya tidak jauh dari tempat jualan keripik tadi, semua itu terjadi 6 bulan yang lalu dan sekarang dia jadi calon tunanganku, tepatnya seminggu lagi status kami berubah.
       Seperti yang aku bilang, dia itu ibarat oase ditengah padang pasir, tidak hanya memberikan kesejukan dipanasnya Bandung saat itu, tapi juga membawa perubahan besar dalam hidupku. Hal yang akhirnya membuatku memutuskan untuk memilih dia, dan meninggalkan laki-laki lain yang sudah bertahun-tahun menjadi pacarku. Salahkah aku ketika membiarkan orang lain masuk saat aku merasa tidak ada kemajuan dari hubunganku? Saat aku merasa aku yang harus selalu sendirian berjuang mempertahankan hubungan yang ga tahu akhirnya dimana? 
       Arga saat itu tahu tentang statusku, tapi dia bukannya mundur, malah terus berusaha meyakinkan aku kalau dia yang lebih pantas, tapi masih dengan cara halus. Pelan-pelan dia masuk ke hatiku, walaupun aku masih berhubungan dengan pacarku, merebutnya tanpa aku sadar, dan sebulan lalu dia melamarku, secara tidak resmi, dan setelah beberapa hari berpikir, akhirnya menerima lamarannya.
       Aku bukannya tidak memberikan pacarku kesempatan untuk berusaha memperbaiki hubungan kami, dan aku juga cerita soal Arga padanya. Tapi mungkin dia berpikir Arga hanya akan seperti beberapa laki-laki lain yang dulu juga pernah mendekatiku, dan pada akhirnya aku tetap memilih dia. Sebenarnya sebelum aku menerima lamaran Arga, aku berusaha berbicara pada pacarku, aku hanya ingin semuanya adil, untuk dia dan Arga. Tapi dia selalu menolak ajakanku untuk berbicara, dari situlah aku memutuskan kalau dia memang tidak berniat mempertahankan hubungan kami.
       Seperti biasa, setiap hari minggu aku datang ke kontrakan Arga untuk sekedar nonton dvd, atau sekali-kali memasak untuknya. Dia memang lebih senang menghabiskan waktu di rumah daripada jalan-jalan ke luar. Di Bandung Arga tinggal sendiri, sementara orang tuanya ada diluar kota, dan baru beberapa hari sebelum lamaran mereka datang ke Bandung. Aku hanya pernah sekali bertemu mereka, dan untungnya orang tua Arga menerimaku dengan baik. Bahkan ibunya hampir tiap hari menghubungiku walaupun hanya untuk menanyakan kabar. Keluarga itu memang membuatku jatuh cinta, terutama adik Arga yang masih SD. Arga anak pertama dari 3 bersaudara, dan mungkin karena kakak-kakaknya laki-laki, Carla, adik Arga yang bungsu, langsung dekat denganku dari pertama kami bertemu.
       Tiba-tiba HP ku berbunyi, ringtone khusus yang aku pasang hanya untuk satu orang, dan Arga pun tahu itu. Ya, Givan menghubungiku lagi, setelah berminggu-minggu dia menghilang tanpa kabar. Terakhir kali adalah beberapa hari sebelum aku menerima lamaran Arga, ketika dia menolak bertemu denganku, dan semenjak itu aku menganggap hubunganku dengan dia sudah berakhir.
       “Assalamualaikum. Aku dengar dari Dera minggu depan kamu dilamar sama Arga, maksudnya apa sih Yank? Kamu kan masih pacar aku! Kok bisa-bisanya kamu menerima lamaran laki-laki lain?” Givan terus saja memberondongiku dengan pertanyaan “kenapa”, tanpa memberiku kesempatan untuk sekedar menjawab salamnya, sampai aku kesal dan akhirnya memotong pembicaraannya.
       “Udah selesai ngomongnya? Masih pacar kamu? Yakin? Maaf, aku nganggep hubungan kita udah selesai sejak kamu ga pernah mau aku ajak bicara, dan ya, minggu depan Arga melamar aku secara resmi. Dan aku harap kamu ga usah hubungin aku lagi.” Ucapku sambil menahan air mata. Aku bukannya sedih, hanya kesal mengapa dia harus menghubungiku lagi.
       “Terus kenapa kamu ga ngasih tahu aku tapi ngasih tahu Dera? Kamu tahu kan Yank, semua pekerjaan yang aku lakuin itu buat kamu, buat masa depan kita, semua waktu yang aku habiskan itu buat kita, tapi kenapa kamu malah kaya gini, kamu malah ninggalin aku?” Aku memang hanya memberitahu beberapa teman dekatku, termasuk Dera yang juga teman dekat Givan, karena acara pertunangan kami nanti juga hanya acara sederhana, hanya antara keluargaku dan keluarga Arga.
       “Sepuluh menit, Gi. Aku cuma minta waktu kamu sepuluh menit buat ngomongin mau kamu apa, mau dibawa kemana hubungan kita, mau ampe kapan aku harus nunggu, sepuluh menit dari waktu kamu yang kayanya sangat berharga itu, tapi masih aja kamu ga bisa kasih, gimana aku bisa yakin kamu bisa ngasih seumur hidup kamu buat aku?” Aku terus berusaha menahan air mata yang sudah hampir tumpah “Ga akan ada yang berubah, Gi. Aku minggu depan udah jadi calon istri orang, aku minta kamu hargain keputusan aku, dan jangan pernah ngehubungin aku lagi. Biarin aku bahagia Gi, biarin aku ngerasain apa yang ga pernah bisa kamu kasih, yang akhirnya aku bisa dapetin dari orang lain.” Air mataku akhirnya tumpah tak tertahan lagi, Arga langsung mendekatiku dan menggenggam tanganku, tanpa berusaha menyudahi pembicaraanku dengan Givan.
      “Ga, aku ga bisa relain kamu buat dia, aku bakalan dateng minggu depan ke acara pertunangan kamu, aku yakin kamu masih sayang sama aku, aku bakalan buktiin itu, aku yakin pada akhirnya kamu bakalan milih aku lagi kaya dulu!” Givan langsung menutup telponnya. Arga langsung memelukku dan tangiskupun langsung pecah. “Kenapa harus sekarang Gi, kenapa ga dari dulu??”
       “Kalau kamu memang mau kembali sama dia, aku rela kok lepasin kamu,” Arga tiba-tiba membuka suara setelah melihat aku sedikit lebih tenang, kata-kata yang ga seharusnya dia katakan. “Maksud kamu apa sih Ga? Kamu juga mau ninggalin aku cuma gara-gara Givan ngehubungin aku lagi?” Tanyaku sedikit emosi, maksudnya apa sih si Arga ini?!
       “Bukan gitu Katya sayang, aku cuma ga mau kamu nerima aku karena terpaksa tapi hati kamu sebenernya masih sama dia, aku ga mau pada akhrinya kamu menyesal.” 
       “Omongan kamu ga ada yang masuk akal sedikitpun!” Akhirnya aku tidak kuat lagi menahan emosi. “Denger ya Arga Pradana, aku nerima kamu tuh bukan karena siapa-siapa, bukan karena Givan ga bisa ngasih aku kepastian, tapi karena aku yakin kamu bisa membahagiakan aku, karena aku yakin aku kalau kamu yang sebenarnya Tuhan kasih buat aku, bukan Givan ataupun orang lain! Kamu udah bener-bener nyakitin aku Ga dengan kata-kata kamu!” Air mataku pun kembali jatuh.
       “Maafin aku Sayang, aku ga bermaksud buat nyakitin kamu, maafin aku ya, aku janji ga akan pernah bahas itu lagi.” Arga kembali memelukku, “Yang aku mau cuma kamu, Ga. Kenapa kamu ga ngerti?” Tanyaku dalam hati.
       Jujur, Aku masih mencintai Givan, hal yang tidak mungkin aku sangkal. Perasaanku bertahun-tahun memang tidak mungkin hilang begitu saja, tapi aku percaya, rasa itu akan berubah. Aku juga pasti bisa mencintai Arga, lebih dari rasa cintaku pada Givan.
       Ternyata persiapan acara pertunanganku lumayan menyita waktu walaupun itu hanya acara sederhana. Mama tetap keukeuh menghias rumah dan mempersiapkan makanan terbaik, padahal keluarga Arga yang datang juga tidak banyak. Hanya dia dan orang tua serta adik-adiknya, dan beberapa orang sodara-sodara dari kedua orangtuanya. Sahabatku dan sahabat Arga juga ada yang datang, tapi hanya beberapa.
       “Ini kan pertama kalinya Mama ketemu sama keluarganya Arga, kamu juga sih, kenapa buru-buru, jadi kan mama ga sempet ketemu, cuma bisa telponan sama Mamanya Arga. Jadi Mama pengen ngasih kesan yang baik ke keluarganya Arga, lagian Arga kan calon menantu kesayangan Mama, jadi semuanya harus kaliatan sempurna.” Aku hanya tertawa mendengar kata-kata Mama.
       Mama memang langsung cocok dengan Arga sejak pertama bertemu, begitupun dengan Papa. Walalupun mereka agak kaget karena pertama Arga kerumah dia langsung meminta izin untuk menikahiku. Begitu juga keluarga besarku yang lain, karena yang mereka tahu, aku pacaran dengan Givan bukan Arga. Tapi itu bukan masalah sekarang, yang penting aku sudah memilih, dan pilihan aku Arga.
       Aku jadi teringat kata-kata Mama saat pertama kali aku bercerita tentang Arga. “Gini ya Dek, wanita itu lebih baik menikah dengan pria yang mencintai dia, bukannya yang dia cintai. Contoh we (saja) Uwa Ika, dulu juga dia ninggalin pacarnya dan lebih memilih orang yang dijodohkan sama Mimih (Nenek aku). Karena Mimih tahu, kalau Uwa Adi itu sayang banget sama Uwa Ika, padahal Uwa Ika bogoh pisan (cinta banget) sama pacarnya, dan geuleuh (ga suka) sama Wa Adi gara-gara terus aja ngedeketin. Malahan mah pernah mau kabur walaupun ga jadi karena Uwa Ika keburu sadar kalau yang dia lakuin pasti nyakitin Mimih. Tapi tinggali ayeuna (liat sekarang) mereka hidupnya bahagia kan? Mama belom pernah ngeliat mereka ada masalah, adem ayem aja. Mereka masih aja kaya yang bobogohan (pacaran) padahal buntutnya aja udah sababaraha hiji (beberapa orang). Mungkin karena kasih sayang Wa Adi yang bikin Wa Ika luluh terus akhirnya jadi sayang juga sama Wa Adi. Jadi jangan takut milih gara-gara kamu baru kenal Arga, atau karena kamu sayang sama Givan. Mama ga akan maksa kamu pilih siapa, hati kamu yang paling tahu. Mama mah cuma bisa berdoa semoga siapapun pilihan kamu, dia bisa bikin kamu bahagia.” Kata-kata itu juga yang membuat akhirnya aku yakin untuk memilih Arga, karena aku tahu dia mencintaiku.
       Hari yang ditunggu akhirnya tiba. Dari pagi aku coba menahan kantuk yang tidak juga mau pergi, segala cara aku lakukan mulai dari minum susu (oke, mungkin terdengar aneh, tapi kalau ngantuk aku lebih memilih minum susu daripada kopi soalnya susu malah bikin aku seger, tapi kopi malah sebaliknya), bolak-balik cuci muka, tapi tetep saja tidak berpengaruh. Salahkan sahabat-sahabatku, yang aku paksa menginap karena takut mereka tidak datang diacara besarku kali ini, yang terus saja membuatku terjaga dan bercerita. Salahkan juga hatiku yang terus-terusan saja tidak tenang memikirkan apakah acaranya akan berjalan lancar, dan yang lebih menyita pikiranku adalah kata-kata Givan, aku takut dia benar-benar datang dan mengacaukan semuanya.
       Ketakutanku terbukti, Givan benar-benar datang, dan sepertinya Mama ku pun kaget, walaupun tetap berusaha sopan dan menyambut Givan seperti biasa. “Kok Givan dateng Dek, emang kamu kasih tahu dia?” Mama langsung menarikku ke dapur setelah berbasa-basi dengan Givan. Aku sebenarnya tidak menghiraukan kedatangan Givan, dan lebih memilih membantu persiapan acara nanti. 
       “Engga, Ma. Tapi Katya kasih tahu Dera, dan Givan tahu dari Dera kalau hari ini Katya tunangan, sebenarnya minggu lalu Givan telpon dan marah sama Katya, dan bilang bakalan datang hari ini, tapi ga Katya pikirin karena Katya kira dia bercanda.”
       “Ya udah, sekarang kamu temuin aja dia, Tanya mau dia apa, Mama ga mau ah nanti pas acara malah ada hawa ga enak gara-gara Arga ngeliat Givan!”
       Aku terpaksa menuruti kata-kata Mama dan menemui Givan, yang saat itu sedang berbicara, mungkin lebih tepatnya dikonfrontasi, oleh sahabat-sahabatku. Aku sempat sedikit mencuri dengar dan sahabatku sedikit marah dengan alasan Givan datang ke rumahku hari ini, Givan bilang dia masih berharap aku mau kembali padanya sebelum acara pertunangan dimulai “In your dream, Gi!” ucapku dalam hati.
       “Kamu mau apa sih dateng kesini, kamu tahu kan ga akan ada yang berubah?” 
       “Aku tahu hati kamu masih buat aku, Yank. Aku tahu kamu nerima dia gara-gara aku ga bisa ngasih kepastian sama kamu kan? Maafin aku Yank, aku salah. Kalau kamu mau, sekarang juga aku mau ngelamar kamu, minta izin sama keluarga kamu,sebelum Arga datang, tolong Yank, batalin rencana kamu.”  Givan terus saja dengan pendiriannya, dan tiba-tiba dia memegang tanganku, yang langsung aku lepaskan.
       “Udah telat, Gi!” Aku menghela nafas sebelum meneruskan kata-kataku “Aku milih Arga bukan karena ga ada kepastian dari kamu, tapi karena aku memang yakin kalau dia yang Tuhan kasih buat aku, bukan kamu. Jadi tolong, berhenti, lepasin aku, aku ga mungkin batalin acara hari ini!” Aku berusaha menahan airmataku, aku tak mau terlihat jelek diacara sepenting ini cuma gara-gara Givan.
        “Udah ya Gi, kamu sekarang pulang aja. Aku mohon, jangan kacaukan hari penting di hidup aku cuma gara-gara keegoisan kamu, tolong buat kali ini kamu dengerin aku.”
       “Aku ga mau, aku bakalan tetap ada disini, aku masih berharap kamu berubah pikiran.” Jawab Givan tetap dengan pendiriannya. Terserahlah, asal dia tidak mengacaukan acaraku, atau aku akan membencinya seumur hidup.
       Akhirnya keluarga Arga datang. Dia sedikit terkejut ketika melihat Givan, tapi akhirnya mengerti setelah aku menjelaskan mengapa Givan datang. Aku beruntung bertemu Arga yang dewasa dan mengerti, walaupun sebenarnya dia pencemburu, tapi kalau aku sudah menjelaskan sesuatu, dia pasti mau mendengarkan dan menerima.
       Setelah perkenalan kedua keluarga, dan ada sedikit sambutan dari kedua belah pihak keluarga, acara intipun dimulai, yaitu pertukaran cincin. Aku bahagia akhirnya aku resmi menjadi calon istri Arga, walaupun sekilas aku melihat raut muka Givan yang terlihat sedih. Aku sudah tidak peduli apapun, yang penting aku sekarang bahagia, biarkan masa lalu menjadi pembelajaran untukku agar aku tidak melakukan kesalahan seperti yang Givan lakukan padaku. “sudah terlambat, Gi. Aku sudah memilih, dan itu bukan kamu,” Ucapku dalam hati.
       Orang sering bilang “You’ll never know what you’ve got ‘till it’s gone”. Semoga Givan mengerti, kalau aku sudah menjadi milik orang lain, dan tidak lagi melakukan kesalahan yang sama dengan menyia-nyiakan wanita yang menjadi pendampingnya nanti. Aku berharap dia juga bisa bahagia dan menemukan orang lain yang bisa membahagiakan dia. Apapun yang telah dia lakukan, dia tetaplah orang yang pernah aku cintai bertahun-tahun, dan aku selalu berharap yang terbaik untuknya, hanya mungkin jalan kami pada akhirnya harus berbeda, karena aku sudah menemukan orang yang benar-benar bisa membahagiakanku, Arga. 

READ MORE - The Choosen One

Senin, 04 April 2011

starlight tears

“hei, kenalin gw Ikhlas, tapi lw boleh panggil gw Iyas…”
“heiiii… gw Catleeya, lw boleh panggil gw Iya atau Yaya…”
“Wah, panggilan kita mirip ya heheheh”
Itulah pertama kali aku berkenalan dengannya. Hari pertama masa orientasi fakultas di kampusku. Iyas, tinggi, kurus, kulitnya putih, senyumnya manis, yang pertama kuingat darinya. Orangnya juga terlihat ramah, tapi kebiasaan burukku, aku tak pandai bersosialisasi dengan orang yang baru ku kenal. Dan hari pertama hanya itu percakapan kami.
Aku dan Iyas satu kelompok dalam acara orientasi itu, selain dia, ada 18 orang lainnya yang satu kelompok denganku. Dan beruntung teman-teman sekelompokku yang lain juga ternyata baik, memudahkanku dekat dengan mereka.
Keesokan harinya keadaan sudah mulai membaik, aku jadi lebih dekat lagi dengan Iyas. Ternyata orangnya lucu, dan entah kebetulan atau tidak, aku selalu mendapatkan kesempatan untuk bersama dia, baik dalam permainan, atau diskusi dalam kelompok. Tapi jangan kira kedekatan kami seperti layaknya pertemanan yang lain, kami malah lebih sering mengejek satu sama lain, tapi mungkin itulah yang membuat kami dekat.
Semakin hari aku semakin dekat dengan dia, dan entah mengapa ada satu perasaan aneh yang aku rasakan, tak seperti perasaanku pada teman-temanku yang lainnya. Menganggap dia spesial walaupun tiap hari kami seperti tak bisa akur, selalu saja ada yang kami debatkan.
Sampai satu hari aku mendapatkan kabar bahwa dia akan pindah karena dia diterima di universitas lain. Perasaanku bercampur aduk, tapi yang pasti aku sedih karena tidak bisa lagi bertemu dengannya. Dan aku tau, aku hanya punya waktu beberapa hari lagi untuk bisa bersama dia, dan mungkin mengutarakan perasaanku yang sebenarnya kepada dia.
Ternyata semua tidak berjalan sesuai yang aku inginkan. Hari ke empat ospek, aku malah jatuh sakit dan tidak diperbolehkan untuk mengikuti ospek lagi. Aku bertambah sedih karena aku berpikir kesempatan terakhirku bisa bersama Iyas hilang begitu saja.
Aku terpaksa beristirahat sampai ospek berakhir. Tapi beruntung, Iyas masih belum pergi, karena dia harus mengurus beberapa hal lain di sini. Aku merasa senang sekali, sampai satu hari aku mendapat kabar bahwa dia jadian dengan Agnes, salah satu teman kelompok ospek kami. Hatiku hancur, karena wanita itu adalah teman baikku sendiri. Tapi aku bisa apa, salahku tidak pernah menceritakan perasaanku yang sebenarnya pada Iyas.
Dan hari dimana dia harus pergi pun tiba. Dia pergi tanpa berpamitan denganku, dan tanpa aku punya kesempatan untuk mengutarakan perasaanku yang sebenarnya. Pergi sebagai pacar sahabatku sendiri. Aku berpikir aku harus melupakan dia, karena aku tak mungkin mempunyai kesempatan untuk bertemu dengannya lagi, apalagi mendapatkannya.
.................

Malam itu aku tiba-tiba teringat tentang Iyas, ah sudah lama aku tidak menghubungi dia. Dua tahun berlalu sejak dia pergi, ternyata aku berhasil mengubur perasaanku sendiri. Dan sekarang aku telah mempuinyai orang lain yang aku sayangi, perasaanku pada Iyas benar-benar sudah hilang, saat itu.....
“Iyas...... ni gw Rara. Masih inget ga lw???? Apa kabar???”
Akhirnya aku mengirimkan sms pada Iyas, dan dia pun membalas..
“Hei... kabar baik. Lw?? Kemana aja ni??”
Dan malam itu kami saling mengirim sms, menanyakan kabar satu sama lain, membicarakan hal-hal yang tak penting, dan masih, saling mengejek. Sepertinya bukan kami kalau bisa akur.
Dan sejak saat itu kami jadi dekat lagi. Aku jadi sering menghubungi dia. Menceritakan masalah-masalah yang terjadi padaku. Dan paling sering tentang masalahku dengan pacarku.
Lama-kelamaan semuanya terasa berubah. Perasaanku padanya yang dulu sudah aku buang jauh-jauh, perlahan kembali lagi, bahkan semakin kuat. Aku memang tidak terlalu bahagia dengan hubunganku pada saat itu, aku merasa pacarku tidak bisa membuatku nyaman, dan aku malah menemukan kenyamanan itu pada diri Iyas.
Perhatiannya membuatku tersentuh, walaupun tetap saja tak bisa lepas dari saling mengejek, tapi aku merasa mendapatkan kenyamanan dan kasih sayang, lebih dari yang aku dapatkan dari pacarku.
Awalnya aku tak terlalu memikirkan perasaan itu. Aku berkata pada hatiku sendiri, mungkin perasaan itu datang karena aku kesepian, dan kebetulan Iyas datang dengan segala perhatiannya, membuatku merasa ada seseorang yang menjagaku lagi, dan membuatku nyaman.
Suatu hari pacarku mengetahui kedekatanku dengan Iyas, dan dia melarangku untuk berhubungan lagi dengan Iyas. Baru aku sadari perasaanku yang sebenarnya, perasaan yang lebih kuat dari sekedar kenyamanan bila bersama Iyas, lebih dari yang pernah aku rasakan dulu, saat pertama bertemu dengannya. Aku merasa benar-benar tidak rela pergi dari dia, walaupun aku sadar, aku tak boleh mempunyai perasaan itu, karena sekarang aku tak sendiri lagi.
Untuk beberapa hari aku berusaha tidak menghubungi Iyas lagi, aku tidak berani jujur tentang keadaanku yang sebenarnya, tentang pacarku yang sebenarnya melarangku untuk berhubungan lagi dengannya. Tapi semakin hari aku semakin tak bisa menahan perasaanku sendiri, sampai akhirnya aku memutuskan untuk jujur dan menjelaskan apa yang terjadi. Aku tak sanggup menahan air mataku, aku menangis saat aku menelepon Iyas. Dia bisa mengerti dan menerima apa yang terjadi, karena dia juga tau posisiku saat itu, dia juga merasa harus menghormati pacarku.
Aku mengira itu benar-benar akhir dari segalanya, aku tidak akan menghubunginya lagi. Tapi ternyata aku tidak bisa. Diam-diam aku kembali menghubungi Iyas.
Sejak saat itu, aku dan Iyas malah semakin dekat. Aku merasa dia adalah “pacar keduaku”. Aku selalu berpikir, apa aku bisa disebut selingkuh? Mungkin. Tapi apa yang terjadi tidak lepas dari kesalahan pacarku, yang tak bisa membuatku nyaman dan bahagia seperti yang bisa diberikan Iyas untukku, sedangkan aku tak bisa melepaskan pacarku karena merasa sudah “terikat” dengannya.
Kami semakin dekat, dan tidak mempedulikan siapapun. Aku merasa benar-benar bahagia dengannya. Tiap hari saling berhubungan, walaupun kami tidak tinggal di satu kota, tapi aku merasa dia ada di dekatku, karena semua perhatian yang dia berikan padaku. Aku merasa menemukan seseorang yang aku cintai lagi. Seperti masa-masa awal pacaran.
Sampai suatu hari dia memintaku untuk datang ke tempatnya. Mungkin aku sudah benar-benar terbutakan oleh cinta, aku tidak memperdulikan pacarku, akupun menemui Iyas. Awalnya aku bingung, jujur aku sudah lupa dengan wajahnya, karena terlalu lama tidak bertemu. Untungnya tidak sulit menemukan dia. Iyas, tinggi, kurus, putih. Itulah yang selalu kuingat.
Kami menghabiskan waktu seharian. Berjalan-jalan, makan, ke toko buku, bermain-main di arena permainan seperti anak kecil, bernyanyi di karoke booth, tertawa-tertawa. Ingin rasanya aku menghentikan waktu, dan terus bersamanya. tapi aku tau aku harus segera pulang.
Sore hari yang cerah, aku ingat dia memintaku memeluknya. Aku berkata dalam hati “Tuhan, tak bisakah aku menikmati waktu ini lebih lama lagi? Aku benar-benar tak ingin pergi”
………..
“Udah ya Ya, semuanya harus bener-bener kita akhirin. Kita sama-sama tau posisi lw, lw ga sendiri. Sekarang lebih baik lw kembali ke kenyataan, lw balik sama pacar lw, tanpa ada gw lagi”
Tiba-tiba aku menerima sms itu. Tuhan, baru tadi siang aku bersenang-senang dengannya, kenapa dia harus berkata seperti ini? Mengapa dia harus memintaku menemuinya, kalau dia merasa ini harus berakhir?
“Kenapa Yas? Kenapa lw jahat banget? Gw ga mau. Gw mau lw, gw ga bisa pergi!”
Aku benar-benar tak bisa menahan air mataku. Hatiku benar-benar hancur. Mengapa kebahagiaannya berakhir seperti ini?
“Oke Yas, kalau itu yang lw mau, gw ga bisa apa-apa lagi. Tapi gw mau lw jujur, tentang perasaan lw yang sebenenrnya ke gw selama ini!”
Akhirnya aku memberanikan diri menanyakan tentang perasaannya selama ini. Aku perlu jawaban yang sebenarnya, apakah selama ini aku hanya bertepuk sebelah tangan, dan jawaban dia benar-benar membuatku kaget,
“Nyaman dan sayang”
Aku benar-benar merasa marah saat itu. Sayang? Tapi kenapa dia memintaku untuk pergi? Kenapa dia tidak memperjuangkanku saja? Aku benar-benar tidak mengerti. Aku pun menerima keputusan Iyas untuk pergi dari dia, dan benar-benar mengakhiri semuanya.
“oke kalau itu yang lw mau, terima kasih buat semua waktu yang udah lw kasih buat gw. Maaf kalau selama ini gw cuma bisa nyusahin lw. Tapi lw tau, gw juga sayang sama lw, lebih dari apapun, dan mungkin lw ga akan tau segimana berartinya lw buat gw”
Aku menganggap semuanya benar-benar berakhir
.......
Tapi ternyata tak bisa. Dia sepertinya sudah membuatku kecanduan dengan keberadaannya. Setelah kejadian itupun, kami masih saja berhubungan. Walaupun tidak seintens seperti sebelumnya, tapi perhatian itu masih saja ada.
Sampai akhirnya aku putus dari pacarku. Aku merasa hampir gila, tapi Iyas masih saja ada disana menghiburku, jadi tongkat untukku. Hanya Iyas yang bisa membuatku kembali “normal” lagi, bisa bernafas lagi. Hanya Iyas yang bisa membuatku tersenyum lagi.
Aku merasa memilikinya lagi, seutuhnya, setelah sekian lama perasaanku terbatasi, aku merasa bahagia karena bisa merasa bebas mencintainya. Sampai satu saat, pacarku memintaku untuk kembali padanya. Aku bingung, jujur aku masih sayang dengan mantanku itu, tapi aku juga tak ingin kehilangan Iyas seperti dulu. Akhirnya aku memberikan kesempatan untuk Iyas, memilih memperjuangkanku atau melepaskanku. Sebenarnya aku ingin sekali dia memintaku bersamanya, tapi ternyata aku salah, dia lebih memilih melepaskanku untuk kembali bersama pacarku. Jujur aku kecewa, tapi aku menghargai keputusannya. Akhirnya aku kembali bersama pacarku.
Tapi seperti biasa, keadaannya tidak semudah itu. Aku masih saja dekat dengan Iyas, terkadang dia malah membuatku menyesali keputusanku untuk kembali pada pacarku, bukannya memilihnya. Saat itu aku berpikir, “gw udah ngasih lw kesempatan, kenapa ga lw manfaatin??” terkadang dia bilang, kalau dia bisa lebih baik dari pacarku, hal yang bisa membuatku marah.
Sampai akhirnya, aku tahu dia kembali dekat dengan Agnes, orang yang paling tidak aku inginkan bisa kembali dekat dengannya, karena aku tahu, apa yang dulu sudah wanita itu lakukan pada Iyas, tapi apa hak ku?? Aku tidak berhak melarang dia berhubungan dengan siapapun, walupun aku terkadang bilang, aku cemburu tiap dia bersama wanita itu. Sejak saat itu, aku semakin jauh dengan Iyas, dia semakin jarang menghubungiku, aku juga tak berani menghubunginya duluan.
Ada waktunya terkadang aku menghubunginya dan bertanya tentang hubungannya dengan wanita itu, tapi entah mengapa dia tidak pernah mau jujur dan membahas semua. Aku tak mengeerti, aku berpikir, mungkin memang tidak ada hubungan spesial diantara mereka. Aku kembali berpisah dengan pacarku, tapi tak seperti sebelumnya, kali ini aku merasa Iyas tidak ada untukku, aku juga tidak bisa menyalahkan dia, mungkin dia sudah lelah terus saja ada untukku tanpa ada hasilnya.
Setahun berlalu, aku sudah bekerja sekarang. Cukup lama aku tidak berhubungan dengan Iyas, mungkin karena kesibukan kami masing-masing, aku sudah mulai sedikit demi sedikit melupakannya.
Tiba-tiba, entah ada angin apa, setelah sekian lama, Iyas kembali menghubungiku. Akhirnya kami kembali dekat, walaupun jarak kami semakin jauh. Dia harus bertugas diluar kota, tapi walaupun demikian, hampir tiap hari kami berkirim kabar. Kami semakin dekat seperti dulu, aku merasa Iyas yang dulu sudah kembali, Iyas yang perhatian dan sayang padaku. Dan akhirnya kami memutuskan untuk menjalin hubungan. Aku senang, akhirnya aku bisa benar-benar memilikinya kali ini. Aku bisa melihat dia menyayangiku. Perhatiannya padaku membuatku kembali menyayanginya juga. Tak terasa, kami sudah menjalani hubungan kami selama 3 bulan, walaupun belum sekalipun kami bertemu, tapi dengan segala perhatian yang dia berikan, itu sudah cukup untukku.
Tapi akhir-akhir ini, aku merasakan ada yang berbeda dengan Iyas. Dia kembali jarang menghubungiku. Aku mengerti, mungkin dia sedang sibuk disana, aku juga di sini sedang sibuk dengan pekerjaanku. Sampai aku merasa ada yang benar-benar berbeda darinya. Entah mengapa, tapi ada satu perasaan dihatiku kalau ada yang salah dengan semuanya. Terkadang aku bertanya pada Iyas ada apa sebenarnya, tapi dia hanya bilang kalau dia memang sedang sibuk, aku percaya saja.
READ MORE - starlight tears

Aku tidak tahu ada apa dengan aku hari ini, Rasanya tidak bersemangat sekali untuk bekerja. Aku tidak berkonsentrasi. Aku mencoba menghubungi Iyas, tapi tidak seperti biasanya, dia tidak bisa dihubungi. Teman kantorku pun bingung, karena melihat aku yang biasanya ceria, tiba-tiba saja tidak bersemangat. Entah mengapa aku merasa ada yang salah, perasaanku sangat tidak enak hari ini, seperti ada hal buruk yang akan terjadi. Aku hanya berharap itu Cuma perasaanku. Walaupun aku khawatir terjadi sesuatu dengan Iyas karena dia tidak bisa aku hubungi. Seharian aku mencoba melupakan perasaanku, mengalihkan pikiranku pada pekerjaan.
Sampai akhirnya aku kembali ke tempat kosku, aku melihat satu amplop coklat yang tergeletak didepan pintu. Aku bingung, siapa yang mengirimnya, aku lihat alamat pengirimnya, ternyata kiriman itu dari Iyas. Beberapa hari lalu, dia memang sempat menanyakan alamatku, tanpa menjelaskan untuk apa. Pelan-pelan aku buka amplop itu, aku bingung, apa dia mengirimiku surat? Kenapa dia tidak mengirimkan e-mail saja untukku? Tapi kenapa suratnya terlihat tebal.
Aku sangat lelah, sampai akhirnya aku memilih beristirahat dulu, dan menyimpan amplop itu begitu saja. Malamnya, aku penasaran juga apa isi amplop itu. Pelan-pelan aku buka, sampai akhirnya aku melihat isi amplop itu. Ternyata satu undangan pernikahan. Tapi siapa? Yang aku tahu, kakak Iyas sudah menikah beberapa tahun lalu. Apa ini undangan pernikahan Iyas? Tapi dia tidak pernah mengatakan apapun padaku. Dia malah pernah bilang dia merindukanku selama ini. Perasaanku semakin tidak karuan, aku merasa takut membuka undangan itu. Didepan undangan itu tertulis inisial kedua mempelai A dan I, juga tanggal pernikahan mereka. Dan saat aku buka, betapa kagetnya aku melihat nama yang terpampang disana.

MENIKAH
AGNES FITRIANI
Dengan
MUHAMMAD IKHLAS AKBAR

Seperti ada berton-ton batu yang menimpaku, aku tidak percaya dengan apa yang aku baca. Ini benar-benar undangan pernikahan Iyas, dan yang membuat aku semakin sakit, dia menikah dengan wanita itu. Wanita yang benar-benar tidak aku suka, tidak aku harapkan bisa bersama Iyas. Aku bisa merasakan tanganku bergetar, dan tiba-tiba saja ada butiran hangan yang menetes dari mataku. Iyas? Menikah? Lalu mengapa dia kembali menghubungiku, dan bilang dia merindukanku? Apa maksud semua ini. Aku merasa sangat lemas, dan tak tahu apa yang harus aku lakukan. Lama aku terdiam, masih memegang undangan itu, dan masih tidak percaya.
Saat aku merasa kesadaranku sudah kembali, aku mencoba menghubungi Iyas, tapi nomornya masih tidak bisa dihubungi, apa dia sengaja menghindar dariku? Aku merasa semakin kalut, akhirnya aku memutuskan menghubungi sahabatku, Dinda. Aku menceritakan semuanya. Dia memang yang paling tahu tentang hubunganku dengan Iyas sejak pertama kali. Dia bilang dia juga kaget, dan memutuskan untuk datang ke tempat kos ku. Kami memang bekerja ditempat yang sama, dan tinggal tidak terlalu berjauhan.
Setelah sahabatku datang, aku benar-benar tidak bisa berkata apa-apa, hanya tangisan yang keluar. Dia mencoba menenangkanku, sambil berusaha kembali menghubungi Iyas, tapi dia masih tidak bisa dihubungi. Kemana orang brengsek itu sekarang? Pikirku. Aku kalut, benar-benar hancur.
Aku memaksakan untuk tidur, karena besok tetap saja aku harus kembali bekerja. Untungnya sahabatku mau menemaniku malam ini.  Tapi sulit sekali, sampai pagi datangpun aku masih tidak bisa memajmkan mata. Akhirnya aku terpaksa pergi ke kantor dengan keadaan kacau, belum tidur, dan mata bengkak. Aku sadar, banyak orang yang memperhatikan penampilanku hari ini, tapi aku tidak peduli. Yang ada dipikiranku sekarang hanya bagaimana caranya aku bisa bertemu Iyas, dan mungkin menghajarnya. Dia benar-benar tidak tahu apa yang aku rasakan, mengapa seenaknya saja dia mempermainkan perasanku.
Sudah 3 hari berlalu, aku masih belum mendapat kabar dari Iyas. Akupun sudah lelah menghubunginya, dan sudah bisa sedikit menerima keadaan, walalupun masih terasa sakit, dan aku masih tidak mau ditinggal sendirian. Beruntung sahabatku mengeri, dan dia mau menmaniku beberapa malam itu. Setelah tidak berani membuka undangan itu lagi, akhirnya tadi pagi aku membaca lengkap semuanya. , pernikahannya berlangsung tanggal 29 juli 2011, yang berarti kurang dari 2 minggu lagi. Pernikahan itu digelar di Bandung, tempat mempelai wanita. Tapi mengapa Iyas yang mengirimkannya padaku? Berarti sebelumnya dia pernah datang ke sini, tapi tidak mengabariku? 3 bulan, apa artinya semua ini? Aku kembali merasakan sakit, dan kembali tidak bisa menahan air mata.
Tinggal beberapa hari menuju pernikahan mereka, aku benar-benar merasa sudah bisa merelakan semuanya. Walaupun tanpa penjelasan apapun. Aku juga tidak pernah berusaha menghubungi Iyas lagi. Aku memutuskan untuk datang saja ke pernikahan mereka, apa yang bisa mengehentikanku? Harusnya aku berbahagia untuk mereka, walaupun tanpa disadari, ada orang yang tersakiti disini, aku.
Tapi tiba-tiba saat aku kembali ke tempat kos ku setelah bekerja, dari jauh aku melihat satu sosok pria berdiri didepan kamarku. Tidak terlalu jelas karena saat itu hujan cukup deras. Aku berpikir mungkin itu penjaga kosanku yang baru, karena penjaga yang lama harus pulang kampung, tapi kenapa dia mau diam ditengah hujan untuk menungguku? Semakin dekat, aku merasa seperti mengenal pria itu. Sosok tinggi, kurus putih yang selama ini aku kenal. Dan ya, itu memang dia. Iyas, dia berdiri disana, ditengah hujan. Inginnya aku berbalik dan pergi, tapi dia sudah lebih dulu melihatku. Kuberanikan diri terus berjalan. Perasanku campur aduk, pikiranku kacau, sampai aku diam didepannya. Kami hanya saling terdiam, hal yang selama ini ingin aku tanyakan, sepertinya hilang begitu saja, menguap bersama hujan.
Pikiranku akhirnya kembali, aku mempersilahkannya masuk. Tidak tega juga melihat dia basah kuyup, aku juga tidak tahu apa yang ada dipikiran dia, mengapa dia mau menungguku ditengah hujan seperti itu.
Aku memintanya mengeringkan diri dulu, dan memberikan bajuku yang agak besar untuk dia pakai. Setelah selesai, dia kembali ke kamarku. Masih terdiam, dan masih tidak ada kata yang keluar. Inginnya aku menyerangnya dengan semua pertanyaan-pertanyaan yang ada dibenakku, tapi sepertinya mulut ini terkunci, sulit sekali untuk bersuara. Sampai akhirnya dia mengatakan sesuatu.
“Maafin aku. Aku tau aku ga pantes buat dimaafin, tapi maafin aku. Aku ga bermaksud nyakitin kamu, semua hal yang kita jalanin ga ada yang pura-pura, aku emang beneran sayang sama kamu. Saat itu, aku emang udah tunangan sama Agnes, tapi tiba-tiba, entah kenapa, malam itu aku benar-benar merindukan kamu, maafin aku”
Aku tak bisa berkata-kata, hanya air mata yang keluar. Lama terdiam, tak sanggup mengatakan apapun.
“Kok kamu diem? Maafin aku. Maafin aku, aku bener-bener minta maaf. Tolong jangan benci sama aku, tolong, aku sayang sama kamu.”
Akhirnya amarahku keluar, sepertinya kunci yang menutup mulutku sudah terbuka, tanpa pikir panjang, aku keluarkan semua.
”Sayang? Macam apa Yas? Kamu tiba-tiba aja datang saat aku udah bisa ngelupain semua hal tentang kita, bilang kamu sayang sama aku, bikin aku kembali percaya dan akhirnya mau nerima kamu. Sayang macem apa kalau ternyata saat itu kamu udah tunangan sama Agnes? Apa kamu mau ngebales semua perlakuan aku sama kamu dulu?? Sayang macem apa kalau kamu ngilang saat aku butuh penjelasan? Kamu pengecut Yas, kenapa saat itu kamu ga bisa dihubungin, kamu sengaja? Kamu takut?? Kenapa kamu ga ngejelasin apapun? Kemana aja kamu selama hampir dua minggu ini? Terus kenapa sekarang kamu ke sini, kamu tau kan, pernikahan kamu tinggal 3 hari lagi? Aku mutusin buat dateng kok, tenang aja, aku bukan pengecut!”
Semua kata-kata itu keluar tanpa aku sadari, dan air mataku pun semakin deras.
”Aku Cuma ga percaya Yas kamu bisa ngelakuin semua itu sama aku. Aku pikir kamu beda, kamu baik, tapi ternyata, kamu lebih jahat dari apapun, aku kecewa Yas. Kamu minta aku buat ga benci sama kamu? Tenang aja, aku ga benci sama kamu, tapi aku bener-bener ga bisa terima semua perlakuan kamu!”
”Maafin aku Ya, aku ga punya maksud nyakitin kamu, apalagi buat ngebales hal yang dulu kamu lakuin ke aku. Ga ada niat sedikitpun. Aku emang beneran sayang sama kamu, kamu tau, selama ini aku sebenernya ga bisa lupain kamu. Tapi saat itu, sosok Agnes datang lagi, ngasih semua yang ga bisa kamu kasih ke aku,. Awalnya aku ngerasa Agnes bisa gantiin posisi kamu, tapi ternyata aku salah. Lama kelamaan aku malah makin merindukan kamu, tapi saat aku sadar, aku udah ga bisa pergi, aku udah tunangan sama Agnes. Dan saat aku ngehubungin kamu lagi, aku udah ga bisa nahan semua perasaan aku. Aku bener-bener merindukan kamu, dan saat itu, aku lagi pusing dengan rencana pernikahan aku sama Agnes. Aku bener-bener pengen pergi, tapi aku ga bisa.”
”Sekarang aku terima kamu marah sama aku, itu wajar, aku bakal terima apapun yang bakal kamu lakuin. Saat itu aku bukannya menghindar, tapi aku emang tiba-tiba ditugasin keluar kota dan susah banget nyari signal disana. Aku bukannya ga berusaha juga buat ngehubungin kamu. Aku beberapa kali kirim e-mail ke kamu, tapi ga pernah kamu bales. Dan kemarin aku baru balik lagi ke kantor, aku langsung minta cuti dan dateng ke sini. Aku bilang sama Agnes baru bakal dateng besok, karena aku pengen nemuin kamu dulu, Ya, tolong maafin aku.”
Aku masih terdiam, hanya bisa menangis mendengarkan semua pejelasan Iyas,aku bingung, apa yang harus aku lakukan, tapi akhirnya aku bisa bersuara.
”Udahlah Yas, apapun yang kamu bilang sekarang, ga akan ngerubah apa-apa. Kamu harus tetep nikah sama Agnes, dan lupain aku. Jangan mempersulit keadaan, tolong. Aku ga mau jadi sosok lain dikehidupan kalian. Jangan biarin aku terjebak dalam posisi kamu dulu, kamu tahu ini lebih parah, kamu mau menikah. Cobalah sayang sama Agnes, beberapa hari lagi dia bakal jadi istri kamu, jangan masukin aku dalam masalah yang ga akan pernah bisa kita selesain.”
Tiba-tiba dia memelukku, erat sekali. Awalnya aku berusaha lepas, tapi dia semakin erat memelukku, sampai akhirnya aku menyerah. Aku menangis di pundaknya, semakin deran, diapun menangis.
“Maafin aku Ya, aku udah mempersulit kamu. Semuanya salah aku, maafin aku”
Aku membiarkan dia memelukku, tanpa mengatakan apapun. Perasaan ini semakin sakit, tiba-tiba saja aku merasa tidak rela melepasnya. Apa boleh aku egois?? Tapi aku sadar, aku tak boleh melakukan itu, ada hal yang lebih besar yang akan terjadi.
Akhirnya pelan-pelan dia melepaskan pelukannya. Aku mengira dia tidak akan melakukan apapun lagi, tapi tiba-tiba dia mencium keningku, mataku, dan bibirku. Aku tidak bisa menolak, jujur, aku juga menikmati keadaan ini, lama kami saling berciuman. Sampai aku sadar dan langsung mendorongnya.
”Kita ga boleh kaya gini Yas, kamu sadar kan? 3 hari lagi kamu nikah, sama orang lain! Kamu bisa bayangin kan kalau dia tau apa yang kita lakuin selama ini?”
”Aku sadar Ya, aku sangat sadar sama yang aku lakuin. Tapi tolong, kasih kesempatan buat aku bisa sama kamu, walaupun buat yang terakhir kali.”
Akupun menyerah dan mmberikan kesempatan terakhir untuk Iyas, terakhir, benar-benar untuk yang terakhir. Dan malam itu, aku menizinkan dia menginap di tempatku. Menikmati hari terakhir kami berdua, sebelum aku benar-benar melepasnya pergi. Banyak hal yang kami bicarakan malam itu. Tentang kami, hanya tentang kami.
Besoknya aku merasa tidak bersemangat untuk pergi bekerja, dan memutuskan meminta izin untuk tidak masuk. Iyas masih ada di sini, sebenarnya aku sudah meminta ia untuk pergi dari pagi tadi, tapi dia meminta waktuku sampai siang ini, sebelum akhirnya dia bertemu Agnes. Sebenarnya aku merasa sakit, aku merasa hanya dijadikan cadangan, tapi mungkin karena keegoisanku, aku mengizinkan dia tetap di sini sampai siang, menikmatui saat-saat terakhir bersamanya.
Dan siang itu, aku melihatnya pergi. Mungkin tidak seharusnya tadi malam aku memberikan dia kesmpatan, karena hari ini ingin sekali rasanya membuat dia tetap disini. Tapi aku tahu sudah tak mungkin, aku harus merelakan dia pergi.
Tibalah hari pernikahan mereka. Resepsinya akan diadakan nanti malam disebuah gedung megah di Bandung. Aku meminta Dinda, sahabatku, untuk menemaniku, berjaga-jaga siapa tahu aku benar-benar tidak kuat melihat Iyas bersanding dengan wanita lain.
Gedung resepsi yang indah, terlihat kebahagiaan dimana-mana. Pasti semua orang ditempat ini merasa bahagia, kecuali aku tentunya. Aku menguatkan diri berjalan ke pelaminan, menyapa Iyas dan Agnes.  Agnes terlihat kaget melihat kedatanganku dan Dinda, kebetulan Agnes memang kenal dengan Dinda yang juga satu kampus dulu dengan kami berdua. Akhirnya Iyas bilang kalau dia yang mengundangku, karena sudah menganggap aku seperti adiknya. Aku hanya bisa tersenyum, tersenyum pahit. Setelah menyapa mereka, aku memutuskan untuk pulang. Apalagi yang aku lakukan disini, hanya menyakiti diriku sendiri.
Sebulan sudah kejadian itu berlalu, aku kembali menata hatiku lagi, kembali menyibukkan diri dengan pekerjaanku. Walaupun kadang aku sangat merindukan Iyas, tapi aku tahu, dia mungkin sudah bahagia di sana, dan suatu saat, pasti ada pria lain yang menyayangiku lebih sempurna, yang  Tuhan siapkan untukku, aku percaya.
READ MORE -

Sabtu, 05 Maret 2011

tentang dia 1

Tiba-tiba aku terbangun. Malam ini aku memimpikannya lagi, mimpi yang sama, dia datang kepadaku, tersenyum, dan memelukku.
Pria itu bernama Arfa, pria pertama yang membuatku merasakan cinta, sakit, bahagia, sedih, tawa, tangis, dan segala sesuatu yang belum pernah aku bayangkan akan terjadi padaku.
Aku masih mencintainya sampai sekarang, walaupun kenyataannya aku tak bisa lagi memilikinya. Ya, sudah hampir satu tahun kami berpisah, walalupun demikian, masih sangat sulit sekali menghilangkan dia dari pikiranku.
Aku Rara, masih terjebak dengan pikiran tentangnya disini. Aku bukannya tak berusaha untuk melupakan dia, dan tak sedikit juga pria lain yang datang menghampiriku, tapi entah mengapa, sampai sekarang aku yakin dia akan kembali, mungkin aku salah, tapi untuk kali ini, aku ingin menikmati semua bayanganku tentang dia, walaupun mungkin akhirnya, aku harus benar-benar melepasnya.
Bukan hal yang mudah melepasnya begitu saja, bukan karena waktu hubungan kami yang cukup lama. Kami memang berhubungan cukup lama, 3 tahun. Dan lucunya, dia memutuskanku tepat beberapa hari setelah anniversary kami yang ke-3. dengan alasan yang tak kumengerti. Jujur, dengan segala sesuatu yang sudah dia lakukan saat itu, harusnya aku yang memutuskan dia, tapi mungkin dengan alasan sayang, aku tak berani mengambil keputusan, karena aku tahu, aku akan menyesal. Sebenarnya bukan kali ini saja kami putus, sudah hampir 4 kali kami putus, tapi selalu saja ada jalan untuk kembali. Kami menjalani hubungan yang agak sedikit rumit, karena kami harus berjuang mempertahankan hubungan jarak jauh, aku dari kota Sukabumi dan kuliah di Bandung, sementara dia kuliah dan tinggal di Jakarta.
Kami bertemu secara kebetulan. Saat itu aku sedang menjenguk teman kampusku di sebuah rumah sakit di Bandung, dan kebetulan teman kampusku itu adalah sahabatnya ketika sma, dia di sana sedang menunggu temanku itu. Kamipun berkenalan, jujur, saat itu aku bahkan tidak mengingat namanya, apalagi wajahnya. Tapi tiba-tba dia menghubungiku, dan dari situ kami mulai dekat. Dia menghabiskan waktu selama 2 minggu di Bandung, dan saat itu kami sering bertemu. Jujur, aku menyukainya dari awal kami dekat. Aku merasakan ada yang berbeda dari dia, entah apa itu. Tapi dia selalu saja bisa membuatku tersenyum, dan tidak punya perasaan bersalah ketika bersama dia, perasaan yang biasanya aku rasakan ketika aku bersama pria lain.
Tiba saatnya dia harus kembali ke Jakarta, tapi sebelum itu, kami pergi ke sebuah tempat makan. Di sana dia jujur tentang perasaannya padaku, dia bilang menyukaiku. Aku bingung, aku juga menyukainya, tapi aku takut menjalani hubungan jarak jauh, aku tahu, resikonya lebih besar. Lama aku berpikir, dan akhirnya aku menjawab iya. Ga ada salahnya mencoba.
Awal hubungan kami, aku benar-benar merasa bahagia. Dia sangat baik kepadaku, perhatian, selalu mengingatkanku salat, yang tak pernah dilakukan pacar-pacarku sebelumnya. Bukan waktu yang lama sampai aku benar-benar menyayanginya. Merasakan hal yang indah, mencintai dan merasa di cintai. Walaupun sedikit sulit, karena kami tidak bisa begitu saja bertemu ketika aku merindukannya. Tapi dia berjanji akan segera menemuiku. Aku tidak sabar untuk bertemu dengannya.
Diapun datang. ”Akhirnya, aku bisa merasakan pacaran yang normal” pikirku. Satu minggu dia di Bandung, tapi saat itu, ada satu insiden yang membuatku mengambil keputusan untuk berpisah. Dia sudah melakukan satu hal yang menurutku di luar batas wajar.
”Aku pengen kita putus. Hubungan yang dibarengin sama nafsu ga akan pernah berakhir baik!”
Itulah isi sms ku saat itu. Aku benar-benar merasa marah. Tapi dia memintaku untuk bertemu dengannya dan meminta kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Aku memberikan kesempatan padanya. Dia bilang dia berani melakukan semua itu karena dia sudah yakin denganku, aku tak tahu apa maksudnya, tapi saat itu aku memberikan kesempatan, dan kamipun kembali bersama.
Kembali menjalani hubungan jarak jauh, karena dia harus kembali ke Jakarta. Aku masih melakukan segala sesuatu hal normal di sini, kuliah, jalan sama teman-teman.
Tapi lama kelamaan ada hal yang membuatku kembali tidak nyaman. Dia membatasi hubungan pertemananku, apalagi dengan laki-laki. Dia selalu cemburu tanpa ada alasan yang jelas, dan melarangku berteman dengan laki-laki, padahal hampir semua temanku laki-laki, dan dari dulu aku memang mempunyai banyak teman laki-laki, mungkin karena kelakuanku sendiri yang agak tomboy.
Untuk sementara waktu aku memaklumi semua sifatnya, sampai satu saat, aku sudah tidak bisa mentoleransi lagi semua kecurigaannya. Saat itu, dia melarangku mengikuti satu kegiatan, tanpa alasan yang jelas. Saat itu, aku kembali meminta putus dari dia. Hidupku bukan hanya tentang dia, aku juga harus punya kehidupan di sini, sementara aku tak bisa bertemu dia.
Tapi ternyata masih sulit, besoknya aku menghubungi dia, aku bilang aku menyesal, dan ingin dia kembali padaku. Syukurlah, dia juga masih mau memafkanku, dan kami kembali bersama.
Dia mulai sedikit berubah, dan tidak pernah mempersoalkan kedekatanku dengan temanku yang laki-laki, walaupun masih saja cemburu dengan hal-hal yang menurutku tidak masuk akal, tapi mungkin itu tanda rasa sayang dia padaku.
Awalnya kami hanya bertemu satu bulan sekali, itupun karena dia yang datang ke sini. Agak sulit menerima keadaan, karena harusnya dia ada setiap kali aku membutuhkan dia disampingku, tapi itulah resiko yang harus aku ambil kan? Tapi lama kelamaan, aku juga sering menemuinya di Jakarta, kamipun lebih sering bertemu, walaupun demikian, bukan berarti masalah itu tak ada, masih saja dia protektif kepadaku, membatasiku melakukan yang aku inginkan.
Ada lagi satu kesalahan kami, aku tahu itu sesuatu yang seharusnya tidak kami lakukan, sesuatu yang sudah benar-benar melewati batas, hal yang dulu membuatku memutuskannya. Hal yang membuatku tidak bisa seperti dulu lagi, membuatku sekarang merasa kotor dan tidak pantas untuk siapapun. Aku sering berpikir untuk berhenti melakukan kesalahan itu, dan aku juga meminta dia melakukan hal yang sama, tapi ternyata sulit, kami pasti melakukan kesalahan itu, dan akhirnya menjadi satu ”kebiasaan buruk” yang kami lakukan tiap kami bertemu.
Lama kelamaan aku merasa dia berubah, entah kemana dia yang dulu perhatian padaku. Dia sudah jarang menghubungiku, bahkan kadang menghilang begitu saja dan tak mau aku hubungi. Bahkan ada satu kejadian yang benar-benar membuatku sakit hati, dia tidak percaya padaku. Ada satu kesalahpahaman yang bahkan tidak aku mengerti. Temannya menjelek-jelekan aku didepan dia, dan parahnya, dia lebih percaya pada temannya itu. Hampir satu minggu kami menjalani hubungan yang benra-benar tidak sehat, tiap hari selalu saja ada pertengkaran, teriakan, marah-marah, sampai akhirnya aku menyerah dan memutusklan dia lagi. Untuk kali ini aku yakin aku bisa.
Ternyata, dengan alasan ”sayang”, aku tak bisa, aku kembali memintanya untuk memaafkanku. Tapi saat itu dia tidak begitu saja memaafkanku, walaupun akhirnya, kami kembali bersama.
Kami sudah saling mengenal keluarga masing-masing. Aku sering diajak ke rumahnya tiap kali ke jakarta, dan dia juga pernah bertemu keluargaku saat keluargaku di Bandung. Dia juga pernah beberapa kali ke rumahku di Sukabumi. Itulah salah satu alasanku dulu, sampai sekarang ingin mempertahankannya, walalupun mungkin alasan yang salah.
READ MORE - tentang dia 1

tentang dia 2

Hubungan kami tidak bisa dibilang baik-baik saja, sering sekali dia menyakitiku dan tidak peduli padaku. Sampai akhirnya aku berubah jadi orang yang agak sedikit tertutup. Awalnya aku sangan cerewet, apapun aku katakan, apa perasaanku. Tapi lama kelamaan, aku bahkan tidak bisa menceritakan apa yang sedang aku rasakan. Ketika kami ada masalah, aku lebih memilih menyimpannya sendiri, karena tiap kali aku marah gara-gara kesalahan dia, dia akan berbalik marah padaku. Aku bukannya tidak mau menyelesaikan masalah, aku hanya tidak mau menambah parah masalah yang ada, dan aku tahu, akhirnya aku juga yang akan di salahkan.
Teman-teman kampusnya pun memperparah keadaan kami. Mereka sering menjelek-jelekanku, padahal aku sama sekali tidak mengenal mereka, aku tak tahu mengapa mereka bisa berkata hal yang sebneranya aku juga tidak mengerti, tapi yang dia lakukan? Dia lebih ”memihak” teman-temannya, aku benar-benar lelah. Tapi semua itu tidak membuatku ingin melepaskannya, mungkin karena ”sayang”.
Saat itu, aku sedang dekat dengan salah satu teman lamaku, namanya Kiran. Mungkin karena perlakuan Arfa padaku, aku mencari ”pelarian” ditempat lain, dan Kiran lah yang bisa memberikanku hal yang tidak bisa Arfa berikan pada saat itu. Perhatian dan kasih sayang yang aku inginkan dari Arfa, bisa aku dapatkan dari Kiran. Aku tahu aku salah, membuat Kiran menyayangiku, tapi kami sama-sama tahu, aku tak bisa meninggalkan Arfa.
Sampai satu hari, kami kembali putus, kali ini dia yang memutuskanku, tanpa alasan yang jelas. Beberapa hari sebelumnya, sikap Arfa memang berubah, sangat tidak aku mengerti. Seperti biasa, dia menghilang, tapi ada satu kejadian, terjadi kecelakaan saat dia sedang futsal. Dia memintaku untuk datang ke rumahnya. Tapi sampai disana, dia malah marah karena aku tidak mau menginap di sana. Aku sudah menjelaskan alasanku, tapi dia tidak bisa terima, dan terus saja marah-marah. Keesokan harinya sikap dia sudah berubah lagi, dia kembali baik padaku. Saat itu aku sedang sibuk mengurusi registrasi kuliahku, sampai aku tak punya waktu membalas sms dari dia. Akhirnya dia marah, dan memutuskanku. Aku kaget, karena aku berpikir tidak ada masalah yang serius yang terjadi. Sebenarnya aku tak terima, dan meminta dia untuk kembali, tapi saat itu, dia tetap pada keputusannya. Akupun merelakan dia pergi, dan aku kembali dekat dengan Kiran, lebih dari sebelumnya.
Sudah hampir 3 minggu aku putus dengan Arfa, walalupun berat, tapi aku bersyukur ada Kiran yang menemaniku. Dia selalu mendengarkan semua keluhanku, dan jujur, hanya Kiran yang bisa menangkanku. Dengan segala sesuatu yang sudah terjadi antara aku dan Arfa, apa yang sudah kami jalani dan lakukan, mungkin bisa saja aku gila, karena jujur, sulit sekali melepaskan Arfa setelah aku merasa berjuang sendiri menjalani hubungan kami, setelah aku menerima apapun yang Arfa lakukan padaku, aku masih ingin mempertahankan hubungan kami.
Tapi aku kembali dekat dengan Arfa. Saat itu kami sering berhubungan lewat chat facebook dan YM. Jujur aku senag aku sudah bisa berhubungan lagi dengannya, setelah sebelumnya dia bahkan tidak mau membalas smsku. Lama kelamaan kami semakin dekat, sampai satu malam, ketika aku sedang menelponnya, dia bertanya apakah aku mau kembali bersamanya. Tentu saja saat itu aku bilang iya, jujur, aku masih menyayanginya. Walalupun kami tidak langsung berpacaran lagi, karena Arfa meminta agar kami kembali bersama setelah kami bertemu, entah apa alasannya.
Sampai saatnya dia datang ke Bandung, dan akhirnya kami kembali berpacaran. Sikap dia sudah mulai berubah lebih baik, walaupun kadang, masih saja ada hal yang membuatku menangis gara-gara perlakuan dia padaku, tapi aku merasa semuanya berjalan lebih baik dari sebelumnya.
Tapi ada hal yang membuatku kadang benar-benar merasa lelah, dia sering sekali tiba-tiba membatalkan janji untuk datang ke Bandung. Dengan keadaan kami yang tidak bisa sering bertemu, hal itu membuatku sangat sedih. . Aku sebenarnya ingin sekali dia ada disaat-saat tertentu, di hari yang spesial, misalnya perayaan tanggal jadian kami. Bahkan dia tidak datang saat aku ulang tahun, dan lebih memilih bersama temannya saat aku ingin memberikan kejutan pada hari ulang tahunnya, padahal semua sudah aku persiapkan. Dia selalu berkata ”kayak ga ada tahun depan aja sih”. Tapi entah mengapa aku merasa saat itu adalah saat terakhir, tidak akan pernah ada tahun depan.
Jujur, saat itu, aku merasa dia sedang dekat dengan wanita lain. Aku sudah cukup mengenal dia, dan aku tahu, dia tidak akan begitu saja bisa dekat dengan seorang wanita jika dia tidak merasakan apapun kepada wanita itu. Walalupun demikian, aku tidak bisa bertanya kepadanya, karena aku tahu kebiasaannya, dia akan berbalik marah padaku.
Dan ketika anniversary kami yang ke-3, dia kembali melanggar janjinya sendiri untuk datang ke Bandung. Hanya gara-gara masalah hari. Dia bilang akan datang hari minggu, tapi tiba-tiba sabtu pagi dia menghubungiku, dan bilang tidak akan datang, hanya karena malam harinya aku tidak menjawab telepon dari dia, padahal yang aku tahu, tidak ada satupun telepon dari dia. Aku benar-benar marah pada saat itu, dan memaksa untuk bertemu. Aku bilang aku yang akan ke Jakarta, dan menunggunya ditempat biasa dia menjemputku. Walalupun dia sudah melarangku, tapi aku tetap memaksa untuk berangkat.
Aku berpikir dia masih punya perasaan, dan semarah apapun dia akan datang. Aku sebenarnya hanya ingin bertemu untuk memberikan kado yang sudah aku persiapkan. Aku tiba di Jakarta sekitar pukul 18.30. aku menunggunya di sana, aku mengabari dia kalau aku sudah tiba. Tapi dia tidak membalas sms ku. Dia bahkan mematikan hp nya. Aku tetap menunggu, aku berpikir mungkin hp nya memang mati. Sampai aku mulai tidak sabar, sudah hampir jam 9 malam, tapi dia belum datang. Akhirnya aku menghubungi ibunya, aku bertanya apa dia ada dirumah. Aku benar-benar kaget dan tidak percaya, ternyata dia di rumah, dan sengaja mematika hpnya. Aku benar-benar marah, aku sudah tidak bisa lagi menangis, hanya penyesalan, bahkan dia tidak menghargaiku sebagai pacarnya, 3 tahun yang sia-sia, pikirku.
Aku marah, dan kembali ke Bandung malam itu. Hanya ada kebencian yanga ku rasakan, benar-benar tidak percaya.
Keesokan harinya aku menerima sms dari dia, bukan permintaan maaf, tapi dia memutuskanku. Aku berpikir, siapa yang harusnya minta putus? Siapa yang harusnya sakit hati. Dia tidak memberiku alasan, dan bahkan memintaku untuk tidak bertanya alasannya apa. Dengan semua kecurigaanku, aku pikir wajar aku berpikir dia memutuskanku karena wanita lain.
Tapi ternyata sulit, berkali-kali aku meminta dia kembali, tapi dia tidak pernah menanggapiku. Sampai akhirnya aku menyerah, dan merelakan dia pergi. Walaupun sebenarnya, aku masih menyayanginya, sangat menyayanginya.
Keadaan memang sudah berangsur lebih baik, aku sudah bisa berhubungan dengan dia lagi, walalupun hanya lewat chat. Dengan susah payah aku menahan perasaanku, menganggap dia hanya sebatas teman. Aku berpikir, lebih baik seprti ini, aku tidak benar-benar kehilangannya.
Sampai suatu pagi, tiba-tiba aku menerima sms dari dia. Dia bilang tiba-tiba mengingatku. Jujur aku marah, saat aku merasa sudah merelakan dia pergi, dia seenaknya datang, dan berkata suatu hal yang bisa menjatuhkanku lagi.
Dari situ, kami lebih sering berhubungan, ya walalupun masih hanya lewat chat. Sampai satu hari, aku tahu dia sedang dekat dengan wanita lain. Jujur, aku sakit, aku merasa benar-benar sudah tidak punya keseempatan lagi. Tapi seiring kedekatan kami, dia sering bercerita kalau dia tidak merasa bahagia dengan pacarnya. Inginnya aku berkata ”udah, tinggalin dia, kamu sama aku aja, aku yang bisa bikin kamu seneng”. Tapi aku tahu itu tak mungkin.
Sampai entah mengapa, aku menjanjikannya membelikan buku kesukaan dia. Dari situ kami semakin dekat, dan dia semakin sering menghubungiku lebih dulu. Suatu hari, aku bertanya tentang hubungan dia dengan wanita itu. Dia malah menjelek-jelekan pacarnya didepanku. Jujur aku tidak suka, itu bukan urusanku, sekarang dia sedang menjalani hubungan dengan wanita itu, dan itulah konsekuensi yang harus dia ambil.
Kami semakin dekat, bahkan kami berjanji ubtuk bertemu saat aku mengunjungi temanku yang ada di jakarta. Tapi seprti biasa, dia membatalkan janjinya, dengan entah apa alasannya, sampai aku tahu, dia membatalkan janji karena pergi ke Bandung dengan pacarnya. Aku bingung, setiap kali aku bertanya tentang hubungannya dewngan wanita itu, dia pasti bilang sudah putus, tapi ternyata, dia masih bersama wanita itu. Aku benar-benar bingung. Sebenarnya aku berharap, pertemuaku dengannya bisa menjadi kado istimewa untuk hari ulang tahunku yang tinggal beberapa hari, tapi ternyata..
Kali ini aku benar-benar kecewa, dan memutuskan itulah terakhir kali aku berhubungan denga Arfa. Aku merasa sudah tidak ada lagi yang menjadi alasan untukku kembali dekat dengannya.
Tapi ternyata, ketika aku dengan susah payah menata hatiku untuk benar-benar melepaskannya, dia kembali menghubungiku. Tepat di hari ulang tahunku. Aku sebenarnya bersyukur, mungkin Allah tidak mengizinkan kami bertemu, untuk benar-benar menjadikannya kado di saat hari ulang tahunku. Kami mengobrol cukup lama. Mulai dari cerita tentang hubungannya dengan wanita itu, sampai membicarakan masa lalu kami. Berkali-kali dia bilang lebih baik kembali denganku, aku tidak tahu apa dia serius atau tidak, tapi jujur, aku senang, itulah yang selama ini aku inginkan, tapi aku tahu tidak mungkin, dia sudah memiliki kehidupan dengan pacarnya, dan aku tidak boleh mengganggu hubungan mereka.
Keesokan harinya dia kembali menghubungiku, dan cerita bahwa dia sudah memutuskan pacarnya. Aku mengira kali ini akan benar-benar berakhir, hubungannya dengan wanita itu.
Ternyata, saat keesokan harinya aku ingin menghubunginya, pacarnya malah meneleponku dan marah-marah. Menuduhku menganggu hubungan mereka. Jujur, saat itu aku benar-benar marah pada Arfa, aku merasa dia tidak bisa tegas. Aku sempat terpancing dan balik marah-marah pada wanita itu, juga pada Arfa. Tapi lama-lama aku menyesal, tidak seharusnya aku bersikap tidak dewasa seperti itu. Aku mengatakan pada Arfa aku menyesal, tapi yang tidak aku mengerti, dia bahkan tidak menghubungiku, untuk menjelaskan keadaan yang sebenarnya. Jujur aku kecewa, mengapa pada saat aku butuh penjelasan, Arfa malah pergi?
Sekarang aku benar-benar merindukannya, lebih dari saat dulu dia memutuskanku. Ingin sekali aku menghubunginya, tapi aku takut, itu malah memperburuk hubungan dia dengan wanita itu. Aku sangat-sangat merindukannya. Terkadang aku meminta pada Tuhan agar diberikan satu lagi kesempatan untuk mendengar penjelasannya. Aku merindukannya sampai hampir gila. Aku ingin dia kembali, walalupun mungkin hanya sebatas teman, tapi aku ingin tahu keadaannya saat ini, aku inginkan dia, benar-benar menginginkannya.
Aku ingin jujur tentang perasaanku selama ini yang masih tidak bisa melupakannya, aku masih menyayanginya.
Semoga aku masih punya kesempatan.............
READ MORE - tentang dia 2

Jumat, 12 November 2010

1

feel so empty inside..............................

suara hujan di luar membangunkanku dari tidur ku,tak terlalu panjang,tapi itu cukup untuk membuat otakku sedikit beristirahat...

ya,sedikit

mungkin otakku sudah terlalu lelah akhir2 ini,kasian,aku terlalu memaksanya untuk berpikir....
memikirkan masalah yang tak pernah aku sangka bisa terjadi padaku.
seseorang yang paling aku percayai,ternyata jadi orang yang paling sering membuatku jatuh,
tanpa alasan dia pergi begitu saja,
dan ya,hari ini 3 minggu sudah dia pergi,dan mungkin hatiku masih tidak terima dengan apa yang terjadi..

memikirkan kembali apa yang terjadi, apa yang salah, terkungkung dengan smua pertanyaan ini setiap hari, tanpa berani kucari tau jawabannya

hujan masih saja mengguyur di luar sana. sepertinya semakin besar,dan semakin menarikku jauh ke dalam pikiranku.
ahh tiba-tiba saja ku merindukannya, sosok itu, yang mungkin selalu membuatku jatuh, tapi aku menyayanginya.

sayang, mungkinkah???

memikirkan smua rencana yang pernah kami bangun,
tidak, dia mendoktrinkan rencana itu padaku,
itu rencananya, bukan aku

tapi dia pergi dengan smua rencananya, dan pengharapanku yang tinggi akan smua itu,
kadang aku bepikir
Tuhan,aku lebih baik disakiti olehnya, tapi tolong kembalikan dia padaku...

tapi diatas smua itu,kadang ada rasa syukur terbebas dari segala beban tentangnya..
dia,
ya selalu tentang dia

mungkin pengharapanku terlalu tinggi hingga membuatku sulit melepaskannya,
tapi dia yang membuatku seperti itu...

suara petir membangunkanku dari lamunanku...
tapi tak terasa,pipi ini sudah basah

selalu basah, tiap kali kuingat segala hal tentang dia

Tuhan,masih bolehkah aku memilikinya???
ataukah sehari saja ku bisa bersamanya???

hatiku sakit tiap mengingat dia,
tapi sudahlah, apa lagi yang bisa kulakukan. dia sudah memutuskan untuk pergi, dan aku tak bisa membuatnya tetap tinggal.

walaupun kadang berharap,bisa sekali lagi saja memeluknya,
tapi semua sudah terjadi,
tak ada yang bisa aku lakukan lagi untuk membuatnya tetap tinggal disini

(Tuhan,tolong kuatkan aku)

hujan itu masih tak mau berhenti,
tapi sepertinya aku tak bisa terus bermalas-malasan di tempat tidur,
dengan terpaksa aku langkahkan kaki ke kamar mandi.

dan dikamar mandipun smua pikiran tentangnya masih tak mau pergi.
mengingat semua hal yang pernah terjadi di sini,
hal "ekstrem" yang kami lakukan
mencoba segala sesuatu yang tabu disini

(Tuhan,maafkan aku)

kembali air mataku jatuh,
semakin deras,sederas hujan di luar sana.

aku tak kuat lagi berdiri,
tubuhku jatuh diantara air yang mengalir.

tangisku semakin pecah disini.

(Tuhan,apa salahku?)

setelah sekian lama,akhirnya tangisku reda,
aku sudah bisa berpikir jernih

kukatakan pada diriku sendiri,
ayo kamu bisa melewati hari ini,sekuat yang kau lakukan kemarin!

kubuka bajuku,dan kusirami seluruh badanku,
dingin menjalari seluuh tubuh,
tapi kupaksakan untuk mandi,
aku harap hari ini ada setitik cahaya untukku,
dibalik langit yang mendung...

setelah selesai,aku mengeringkan badan
ku pilih baju mana yang terbaik yang bisa kupakai hari ini


seperti wanita lainnya,kupakai sedikit make-up di wajahku,
lumayan untuk menutupi mataku yang agak bengkak gara-gara tangisan tadi.

ya,make-up
lucu juga kalau ingat smua ini,
aku yang dulu paling anti memakai hal seperti itu,sekarang malah panik tiap mau pergi kemanapun.
ya walaupun tak seperti wanita lain yang bermake-up tebal,tapi setidaknya bisa membuat wajahku sedikit bercahaya,mungkin hahha

setelah selesai,aku mengganti bajuku.

ya hari ini mungkin sama saja dengan kemarin, tapi tak tau kenapa, aku sedang ingin membuat diriku terlihat rapi.
semua selesai, aku pun beranjak pergi ke kampus.
ya walaupun hujan masih tak mau berhenti, tapi aku benar-benar harus pergi.

huaahhh hujan membuatku mengantuk,
ditambah dingin yang menusuk membuatku rasanya ingin kembali ke tempat tidur,
tapi ya,kewajibanku membuatku harus pergi.

sebagai mahasiswa semester akhir,aku harus berkutat dengan skripsiku..
ahh andai saja aku lulus tanpa harus melewati skripsi,
(mungkin ini harapan semua mahasiswa hahahha)

aku sebenarnya tidak terlalu bersemangat hari ini,
walaupun dikampus aku bisa bertemu teman-temanku,
dan bisa tertawa bersama mereka,
entah mengapa aku lebih memilih menghabiskan waktuku sendiri di kamar kosanku. tempat yang paling aku benci, tapi satu-satunya tempat yang nyaman untukku...

dan akhirnya urusanku pun selesai,
ahh leganya...

aku mengahmpiri teman-temanku yang sedang berkumpul,
senangnya masih mempunyai mereka,
setidaknya aku masih bisa menyembunyikan kesedihan dibalik tawaku,

selalu tertawa,walaupun yang kami bicarakan tak pernah jelas,
tapi ya,begitulah kami,memang kumpulan orang-orang yang tak jelas,tapi aku sayang mereka..

(terima kasih Tuhan)

waktupun sudah beranjak senja,
dan memaksaku meninggalkan "kebahagiaan sementara" ku.
mneghadapi kenyataan yang pahit lagi,
kembali ke kamarku yang sempit,dan makin sempit dengan semua cerita tentangnya..
tapi aku harus mengahadpi semua ini
berharap esok hari aku bisa lebih tegar berdiri
sendiri
READ MORE - 1