Rabu, 24 April 2013

The Choosen One

       Cuaca Bandung lagi panas-panasnya, kalau kata orang-orang sih “neraka kayanya lagi bocor”. Aku terpaksa menembus panasnya Bandung cuma buat nyari keripik pedes pesenan kakakku yang katanya lagi ngidam banget, saat ga sengaja aku ngeliat dia juga lagi ngantri, kayanya sih nyari keripik yang sama juga. Setelan pekerja kantoran rapi, minus dasi sih, ngeliatnya aja udah berasa adem banget. Dia tuh ibarat oase ditengah padang pasir (oke, aku mulai terdengar berlebihan), dan tiba-tiba dia nengok, mungkin melihat aku yang sedang memperhatikan dia, dan tersenyum. Kalian tahu, aku tiba-tiba merasa seperti berada di tengah padang bunga yang sejuk, melayang-layang (yup, mulai lebai lagi). Tapi bodohnya diperhatikan seperti itu aku malah makin tidak bisa bergerak sama sekali, sampai ibu-ibu di belakang menegurku gara-gara aku menghalangi jalan dia.
       Semuanya ga berhenti disitu, karena ternyata dia menungguku. Dia mengulurkan tangannya untuk mengajak berkenalan, dan dari situlah semuanya dimulai. Namanya Arga, kerja di salah satu Bank swasta yang kantornya tidak jauh dari tempat jualan keripik tadi, semua itu terjadi 6 bulan yang lalu dan sekarang dia jadi calon tunanganku, tepatnya seminggu lagi status kami berubah.
       Seperti yang aku bilang, dia itu ibarat oase ditengah padang pasir, tidak hanya memberikan kesejukan dipanasnya Bandung saat itu, tapi juga membawa perubahan besar dalam hidupku. Hal yang akhirnya membuatku memutuskan untuk memilih dia, dan meninggalkan laki-laki lain yang sudah bertahun-tahun menjadi pacarku. Salahkah aku ketika membiarkan orang lain masuk saat aku merasa tidak ada kemajuan dari hubunganku? Saat aku merasa aku yang harus selalu sendirian berjuang mempertahankan hubungan yang ga tahu akhirnya dimana? 
       Arga saat itu tahu tentang statusku, tapi dia bukannya mundur, malah terus berusaha meyakinkan aku kalau dia yang lebih pantas, tapi masih dengan cara halus. Pelan-pelan dia masuk ke hatiku, walaupun aku masih berhubungan dengan pacarku, merebutnya tanpa aku sadar, dan sebulan lalu dia melamarku, secara tidak resmi, dan setelah beberapa hari berpikir, akhirnya menerima lamarannya.
       Aku bukannya tidak memberikan pacarku kesempatan untuk berusaha memperbaiki hubungan kami, dan aku juga cerita soal Arga padanya. Tapi mungkin dia berpikir Arga hanya akan seperti beberapa laki-laki lain yang dulu juga pernah mendekatiku, dan pada akhirnya aku tetap memilih dia. Sebenarnya sebelum aku menerima lamaran Arga, aku berusaha berbicara pada pacarku, aku hanya ingin semuanya adil, untuk dia dan Arga. Tapi dia selalu menolak ajakanku untuk berbicara, dari situlah aku memutuskan kalau dia memang tidak berniat mempertahankan hubungan kami.
       Seperti biasa, setiap hari minggu aku datang ke kontrakan Arga untuk sekedar nonton dvd, atau sekali-kali memasak untuknya. Dia memang lebih senang menghabiskan waktu di rumah daripada jalan-jalan ke luar. Di Bandung Arga tinggal sendiri, sementara orang tuanya ada diluar kota, dan baru beberapa hari sebelum lamaran mereka datang ke Bandung. Aku hanya pernah sekali bertemu mereka, dan untungnya orang tua Arga menerimaku dengan baik. Bahkan ibunya hampir tiap hari menghubungiku walaupun hanya untuk menanyakan kabar. Keluarga itu memang membuatku jatuh cinta, terutama adik Arga yang masih SD. Arga anak pertama dari 3 bersaudara, dan mungkin karena kakak-kakaknya laki-laki, Carla, adik Arga yang bungsu, langsung dekat denganku dari pertama kami bertemu.
       Tiba-tiba HP ku berbunyi, ringtone khusus yang aku pasang hanya untuk satu orang, dan Arga pun tahu itu. Ya, Givan menghubungiku lagi, setelah berminggu-minggu dia menghilang tanpa kabar. Terakhir kali adalah beberapa hari sebelum aku menerima lamaran Arga, ketika dia menolak bertemu denganku, dan semenjak itu aku menganggap hubunganku dengan dia sudah berakhir.
       “Assalamualaikum. Aku dengar dari Dera minggu depan kamu dilamar sama Arga, maksudnya apa sih Yank? Kamu kan masih pacar aku! Kok bisa-bisanya kamu menerima lamaran laki-laki lain?” Givan terus saja memberondongiku dengan pertanyaan “kenapa”, tanpa memberiku kesempatan untuk sekedar menjawab salamnya, sampai aku kesal dan akhirnya memotong pembicaraannya.
       “Udah selesai ngomongnya? Masih pacar kamu? Yakin? Maaf, aku nganggep hubungan kita udah selesai sejak kamu ga pernah mau aku ajak bicara, dan ya, minggu depan Arga melamar aku secara resmi. Dan aku harap kamu ga usah hubungin aku lagi.” Ucapku sambil menahan air mata. Aku bukannya sedih, hanya kesal mengapa dia harus menghubungiku lagi.
       “Terus kenapa kamu ga ngasih tahu aku tapi ngasih tahu Dera? Kamu tahu kan Yank, semua pekerjaan yang aku lakuin itu buat kamu, buat masa depan kita, semua waktu yang aku habiskan itu buat kita, tapi kenapa kamu malah kaya gini, kamu malah ninggalin aku?” Aku memang hanya memberitahu beberapa teman dekatku, termasuk Dera yang juga teman dekat Givan, karena acara pertunangan kami nanti juga hanya acara sederhana, hanya antara keluargaku dan keluarga Arga.
       “Sepuluh menit, Gi. Aku cuma minta waktu kamu sepuluh menit buat ngomongin mau kamu apa, mau dibawa kemana hubungan kita, mau ampe kapan aku harus nunggu, sepuluh menit dari waktu kamu yang kayanya sangat berharga itu, tapi masih aja kamu ga bisa kasih, gimana aku bisa yakin kamu bisa ngasih seumur hidup kamu buat aku?” Aku terus berusaha menahan air mata yang sudah hampir tumpah “Ga akan ada yang berubah, Gi. Aku minggu depan udah jadi calon istri orang, aku minta kamu hargain keputusan aku, dan jangan pernah ngehubungin aku lagi. Biarin aku bahagia Gi, biarin aku ngerasain apa yang ga pernah bisa kamu kasih, yang akhirnya aku bisa dapetin dari orang lain.” Air mataku akhirnya tumpah tak tertahan lagi, Arga langsung mendekatiku dan menggenggam tanganku, tanpa berusaha menyudahi pembicaraanku dengan Givan.
      “Ga, aku ga bisa relain kamu buat dia, aku bakalan dateng minggu depan ke acara pertunangan kamu, aku yakin kamu masih sayang sama aku, aku bakalan buktiin itu, aku yakin pada akhirnya kamu bakalan milih aku lagi kaya dulu!” Givan langsung menutup telponnya. Arga langsung memelukku dan tangiskupun langsung pecah. “Kenapa harus sekarang Gi, kenapa ga dari dulu??”
       “Kalau kamu memang mau kembali sama dia, aku rela kok lepasin kamu,” Arga tiba-tiba membuka suara setelah melihat aku sedikit lebih tenang, kata-kata yang ga seharusnya dia katakan. “Maksud kamu apa sih Ga? Kamu juga mau ninggalin aku cuma gara-gara Givan ngehubungin aku lagi?” Tanyaku sedikit emosi, maksudnya apa sih si Arga ini?!
       “Bukan gitu Katya sayang, aku cuma ga mau kamu nerima aku karena terpaksa tapi hati kamu sebenernya masih sama dia, aku ga mau pada akhrinya kamu menyesal.” 
       “Omongan kamu ga ada yang masuk akal sedikitpun!” Akhirnya aku tidak kuat lagi menahan emosi. “Denger ya Arga Pradana, aku nerima kamu tuh bukan karena siapa-siapa, bukan karena Givan ga bisa ngasih aku kepastian, tapi karena aku yakin kamu bisa membahagiakan aku, karena aku yakin aku kalau kamu yang sebenarnya Tuhan kasih buat aku, bukan Givan ataupun orang lain! Kamu udah bener-bener nyakitin aku Ga dengan kata-kata kamu!” Air mataku pun kembali jatuh.
       “Maafin aku Sayang, aku ga bermaksud buat nyakitin kamu, maafin aku ya, aku janji ga akan pernah bahas itu lagi.” Arga kembali memelukku, “Yang aku mau cuma kamu, Ga. Kenapa kamu ga ngerti?” Tanyaku dalam hati.
       Jujur, Aku masih mencintai Givan, hal yang tidak mungkin aku sangkal. Perasaanku bertahun-tahun memang tidak mungkin hilang begitu saja, tapi aku percaya, rasa itu akan berubah. Aku juga pasti bisa mencintai Arga, lebih dari rasa cintaku pada Givan.
       Ternyata persiapan acara pertunanganku lumayan menyita waktu walaupun itu hanya acara sederhana. Mama tetap keukeuh menghias rumah dan mempersiapkan makanan terbaik, padahal keluarga Arga yang datang juga tidak banyak. Hanya dia dan orang tua serta adik-adiknya, dan beberapa orang sodara-sodara dari kedua orangtuanya. Sahabatku dan sahabat Arga juga ada yang datang, tapi hanya beberapa.
       “Ini kan pertama kalinya Mama ketemu sama keluarganya Arga, kamu juga sih, kenapa buru-buru, jadi kan mama ga sempet ketemu, cuma bisa telponan sama Mamanya Arga. Jadi Mama pengen ngasih kesan yang baik ke keluarganya Arga, lagian Arga kan calon menantu kesayangan Mama, jadi semuanya harus kaliatan sempurna.” Aku hanya tertawa mendengar kata-kata Mama.
       Mama memang langsung cocok dengan Arga sejak pertama bertemu, begitupun dengan Papa. Walalupun mereka agak kaget karena pertama Arga kerumah dia langsung meminta izin untuk menikahiku. Begitu juga keluarga besarku yang lain, karena yang mereka tahu, aku pacaran dengan Givan bukan Arga. Tapi itu bukan masalah sekarang, yang penting aku sudah memilih, dan pilihan aku Arga.
       Aku jadi teringat kata-kata Mama saat pertama kali aku bercerita tentang Arga. “Gini ya Dek, wanita itu lebih baik menikah dengan pria yang mencintai dia, bukannya yang dia cintai. Contoh we (saja) Uwa Ika, dulu juga dia ninggalin pacarnya dan lebih memilih orang yang dijodohkan sama Mimih (Nenek aku). Karena Mimih tahu, kalau Uwa Adi itu sayang banget sama Uwa Ika, padahal Uwa Ika bogoh pisan (cinta banget) sama pacarnya, dan geuleuh (ga suka) sama Wa Adi gara-gara terus aja ngedeketin. Malahan mah pernah mau kabur walaupun ga jadi karena Uwa Ika keburu sadar kalau yang dia lakuin pasti nyakitin Mimih. Tapi tinggali ayeuna (liat sekarang) mereka hidupnya bahagia kan? Mama belom pernah ngeliat mereka ada masalah, adem ayem aja. Mereka masih aja kaya yang bobogohan (pacaran) padahal buntutnya aja udah sababaraha hiji (beberapa orang). Mungkin karena kasih sayang Wa Adi yang bikin Wa Ika luluh terus akhirnya jadi sayang juga sama Wa Adi. Jadi jangan takut milih gara-gara kamu baru kenal Arga, atau karena kamu sayang sama Givan. Mama ga akan maksa kamu pilih siapa, hati kamu yang paling tahu. Mama mah cuma bisa berdoa semoga siapapun pilihan kamu, dia bisa bikin kamu bahagia.” Kata-kata itu juga yang membuat akhirnya aku yakin untuk memilih Arga, karena aku tahu dia mencintaiku.
       Hari yang ditunggu akhirnya tiba. Dari pagi aku coba menahan kantuk yang tidak juga mau pergi, segala cara aku lakukan mulai dari minum susu (oke, mungkin terdengar aneh, tapi kalau ngantuk aku lebih memilih minum susu daripada kopi soalnya susu malah bikin aku seger, tapi kopi malah sebaliknya), bolak-balik cuci muka, tapi tetep saja tidak berpengaruh. Salahkan sahabat-sahabatku, yang aku paksa menginap karena takut mereka tidak datang diacara besarku kali ini, yang terus saja membuatku terjaga dan bercerita. Salahkan juga hatiku yang terus-terusan saja tidak tenang memikirkan apakah acaranya akan berjalan lancar, dan yang lebih menyita pikiranku adalah kata-kata Givan, aku takut dia benar-benar datang dan mengacaukan semuanya.
       Ketakutanku terbukti, Givan benar-benar datang, dan sepertinya Mama ku pun kaget, walaupun tetap berusaha sopan dan menyambut Givan seperti biasa. “Kok Givan dateng Dek, emang kamu kasih tahu dia?” Mama langsung menarikku ke dapur setelah berbasa-basi dengan Givan. Aku sebenarnya tidak menghiraukan kedatangan Givan, dan lebih memilih membantu persiapan acara nanti. 
       “Engga, Ma. Tapi Katya kasih tahu Dera, dan Givan tahu dari Dera kalau hari ini Katya tunangan, sebenarnya minggu lalu Givan telpon dan marah sama Katya, dan bilang bakalan datang hari ini, tapi ga Katya pikirin karena Katya kira dia bercanda.”
       “Ya udah, sekarang kamu temuin aja dia, Tanya mau dia apa, Mama ga mau ah nanti pas acara malah ada hawa ga enak gara-gara Arga ngeliat Givan!”
       Aku terpaksa menuruti kata-kata Mama dan menemui Givan, yang saat itu sedang berbicara, mungkin lebih tepatnya dikonfrontasi, oleh sahabat-sahabatku. Aku sempat sedikit mencuri dengar dan sahabatku sedikit marah dengan alasan Givan datang ke rumahku hari ini, Givan bilang dia masih berharap aku mau kembali padanya sebelum acara pertunangan dimulai “In your dream, Gi!” ucapku dalam hati.
       “Kamu mau apa sih dateng kesini, kamu tahu kan ga akan ada yang berubah?” 
       “Aku tahu hati kamu masih buat aku, Yank. Aku tahu kamu nerima dia gara-gara aku ga bisa ngasih kepastian sama kamu kan? Maafin aku Yank, aku salah. Kalau kamu mau, sekarang juga aku mau ngelamar kamu, minta izin sama keluarga kamu,sebelum Arga datang, tolong Yank, batalin rencana kamu.”  Givan terus saja dengan pendiriannya, dan tiba-tiba dia memegang tanganku, yang langsung aku lepaskan.
       “Udah telat, Gi!” Aku menghela nafas sebelum meneruskan kata-kataku “Aku milih Arga bukan karena ga ada kepastian dari kamu, tapi karena aku memang yakin kalau dia yang Tuhan kasih buat aku, bukan kamu. Jadi tolong, berhenti, lepasin aku, aku ga mungkin batalin acara hari ini!” Aku berusaha menahan airmataku, aku tak mau terlihat jelek diacara sepenting ini cuma gara-gara Givan.
        “Udah ya Gi, kamu sekarang pulang aja. Aku mohon, jangan kacaukan hari penting di hidup aku cuma gara-gara keegoisan kamu, tolong buat kali ini kamu dengerin aku.”
       “Aku ga mau, aku bakalan tetap ada disini, aku masih berharap kamu berubah pikiran.” Jawab Givan tetap dengan pendiriannya. Terserahlah, asal dia tidak mengacaukan acaraku, atau aku akan membencinya seumur hidup.
       Akhirnya keluarga Arga datang. Dia sedikit terkejut ketika melihat Givan, tapi akhirnya mengerti setelah aku menjelaskan mengapa Givan datang. Aku beruntung bertemu Arga yang dewasa dan mengerti, walaupun sebenarnya dia pencemburu, tapi kalau aku sudah menjelaskan sesuatu, dia pasti mau mendengarkan dan menerima.
       Setelah perkenalan kedua keluarga, dan ada sedikit sambutan dari kedua belah pihak keluarga, acara intipun dimulai, yaitu pertukaran cincin. Aku bahagia akhirnya aku resmi menjadi calon istri Arga, walaupun sekilas aku melihat raut muka Givan yang terlihat sedih. Aku sudah tidak peduli apapun, yang penting aku sekarang bahagia, biarkan masa lalu menjadi pembelajaran untukku agar aku tidak melakukan kesalahan seperti yang Givan lakukan padaku. “sudah terlambat, Gi. Aku sudah memilih, dan itu bukan kamu,” Ucapku dalam hati.
       Orang sering bilang “You’ll never know what you’ve got ‘till it’s gone”. Semoga Givan mengerti, kalau aku sudah menjadi milik orang lain, dan tidak lagi melakukan kesalahan yang sama dengan menyia-nyiakan wanita yang menjadi pendampingnya nanti. Aku berharap dia juga bisa bahagia dan menemukan orang lain yang bisa membahagiakan dia. Apapun yang telah dia lakukan, dia tetaplah orang yang pernah aku cintai bertahun-tahun, dan aku selalu berharap yang terbaik untuknya, hanya mungkin jalan kami pada akhirnya harus berbeda, karena aku sudah menemukan orang yang benar-benar bisa membahagiakanku, Arga. 

0 comments:

Posting Komentar